pagi ini ku terdiam
larut bersama jatuhnya embun dari dedaunan sisa kemarin malam
menatap sebuah bangku kosong yg menyimpan jutaan peran
masih teringat jelas siapa lelaki yg senang duduk diatasnya
menyeruput secangkir kopi dan menikmati indahnya senja
dulu kursi itu tepat berada di depan kaca yang mengarahkannya pada keindahan semesta.
namun tidak dengan kini, kursi itu telah kehilangan perannya
entah karena usang dimakan usia
atau karena beberapa orang enggan mengingatnya
kursi itu ditinggalkan bersama seorang lelaki di dalamnya
bukan karena tidak sudi mengenangnya
namun bayangan itu tetap saja mengoyak dada
bayangan ketika mulutnya tak mampu berkata
ketika matanya tak lagi terbuka.
ketika kakinya tak dapat melangkah.
bahkan ketika tangannya tak sanggup menjamah.
pikiran ku tiba tiba bersahut sahutan
berlomba lomba memberi isyarat tentang adanya ruang persinggahan
ruang yang hanya ditempati oleh seorang insan
perasaan apa yg bisa di deskripsikan
kekosongan diruang yang sangat menyesakan.
kenyamanan diruang yang penuh keheningan.
ketakutan diruang tanpa penerangan
tertancap diatasnya sebuah papan
ya, pusara yg letaknya berdempetan.
didalamnya tertidur lelaki yg selalu aku impikan.
this writing is dedicated to my dad.
i wrote it when i'm feeling so sad.
i just won't keep it for my self
that's why i posted it here.

0 komentar
hii... let me know that you are one of my blog's reader.
feel free to leave a comment :)